Jurnal Internasional Scopus Q1

Jurnal Internasional Scopus Q1

Guru SMA Islam Al-Azhar 5 Cirebon Tembus Jurnal Internasional Scopus Q1.

Pencapaian membanggakan kembali datang dari lingkungan SMA Islam Al-Azhar 5 Cirebon. Ade Prasetia Agung Gumelar Purnama, guru bahasa Inggris di sekolah tersebut, berhasil mencatatkan namanya sebagai salah satu penulis artikel ilmiah yang terbit dalam jurnal internasional terindeks Scopus Quartile 1 atau Q1.

Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa guru tidak hanya berperan dalam menyampaikan materi pembelajaran di dalam kelas. Melalui penelitian, penulisan ilmiah, dan kolaborasi dengan perguruan tinggi, seorang guru juga dapat berkontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan pada tingkat internasional.

Artikel ilmiah yang melibatkan Ade sebagai penulis ketiga membahas efektivitas teknik membaca SQ3R dalam membantu siswa memahami bacaan. Tim penulis mengembangkan penelitian tersebut melalui proses panjang hingga akhirnya berhasil menembus jurnal internasional bereputasi.

Bagi Ade, pencapaian itu menjadi pengalaman yang sangat berharga. Penelitian yang semula ia susun untuk mengikuti sebuah kompetisi akhirnya berkembang menjadi karya ilmiah yang dapat diakses dan dijadikan rujukan oleh kalangan akademik dari berbagai negara.

Berawal dari Lomba Karya Ilmiah.

Perjalanan penelitian tersebut bermula ketika Kepala SMA Islam Al-Azhar 5 Cirebon, Nur Wahyudin, S.Si., memberikan tugas kepada Ade untuk mengikuti lomba penulisan karya ilmiah tingkat SMA Al-Azhar se-Indonesia.

Ade kemudian menyusun Penelitian Tindakan Kelas atau PTK berdasarkan proses pembelajaran bahasa Inggris yang ia jalankan bersama siswa. Melalui penelitian tersebut, ia mengangkat persoalan nyata yang muncul selama kegiatan belajar dan mencoba menawarkan metode yang dapat membantu siswa memahami bacaan secara lebih baik.

Dalam proses penyusunannya, Ade harus menentukan masalah penelitian, memilih metode, mengumpulkan data, mengamati perkembangan siswa, serta menganalisis hasil pembelajaran. Ia juga perlu memastikan bahwa setiap temuan memiliki dasar yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kerja keras tersebut mengantarkan Ade ke babak final. Ia berhasil masuk dalam 10 besar nasional dan memperoleh kesempatan untuk mempresentasikan hasil penelitiannya di hadapan dewan juri.

Pada akhir kompetisi, Ade meraih Juara Harapan II atau masuk dalam lima besar nasional. Meskipun belum menempati posisi juara utama, pencapaian tersebut justru menjadi awal perjalanan yang lebih besar bagi karya ilmiahnya.

Artikel yang semula hanya disiapkan untuk perlombaan ternyata memiliki peluang untuk dikembangkan dan dipublikasikan melalui jalur akademik.

Penelitian Mulai Menarik Perhatian Akademisi.

Setelah kompetisi berakhir, artikel ilmiah tersebut mendapat perhatian melalui hubungan akademik antara SMA Islam Al-Azhar 5 Cirebon dan Universitas Swadaya Gunung Jati atau UGJ Cirebon.

Salah seorang koordinator pembelajaran TOEFL di SMA Islam Al-Azhar 5 Cirebon yang juga terlibat dalam pengelolaan jurnal di UGJ melihat potensi dalam penelitian Ade. Ia kemudian menawarkan kesempatan kepada Ade untuk mengirimkan artikel tersebut ke jurnal ilmiah.

Pada tahap awal, artikel itu berhasil terbit dalam jurnal nasional terindeks Sinta 3. Pencapaian tersebut sudah menjadi hasil yang membanggakan karena penelitian seorang guru sekolah menengah dapat masuk ke dalam publikasi ilmiah nasional.

Namun, tim pengelola jurnal UGJ melihat bahwa artikel tersebut masih memiliki potensi untuk dikembangkan. Mereka kemudian menawarkan pendampingan agar penelitian itu dapat memenuhi standar publikasi internasional dan berpeluang masuk ke jurnal terindeks Scopus.

Kesempatan tersebut mendorong Ade untuk melanjutkan proses pengembangan artikel. Ia menyadari bahwa publikasi internasional membutuhkan standar penulisan, metodologi, analisis, dan penyajian data yang lebih ketat.

Jurnal Internasional Scopus Q1 Melibatkan Dosen UGJ dan Politeknik Negeri Batam.

Proses pengembangan artikel kemudian melibatkan tim dosen dari UGJ Cirebon dan Politeknik Negeri Batam. Dalam kolaborasi tersebut, Ade tercatat sebagai penulis ketiga.

Tim akademik membantu menyempurnakan berbagai bagian penelitian agar sesuai dengan standar jurnal internasional. Mereka memperkuat kajian teori, memperbaiki metode penelitian, memperjelas penyajian data, menambah referensi, serta menyesuaikan format artikel.

Selain itu, tim juga menangani komunikasi dan korespondensi dengan pihak penerbit. Seluruh proses tersebut membutuhkan ketelitian karena setiap jurnal memiliki ketentuan penulisan dan prosedur penilaian yang berbeda.

Ade mengaku memperoleh banyak pengalaman selama mengikuti proses tersebut. Sebagai guru sekolah menengah, ia dapat melihat secara langsung cara akademisi mengembangkan artikel, menanggapi masukan penelaah, dan memperbaiki naskah sebelum penerbitan.

“Mereka mengurus penyesuaian template, koordinasi, hingga korespondensi dengan pihak penerbit. Saya sangat senang karena ternyata seorang guru juga memiliki kesempatan untuk menembus jurnal internasional terindeks Scopus Q1,” ujar Ade.

Menurutnya, pengalaman tersebut membuktikan bahwa guru juga dapat terlibat dalam penelitian internasional selama memiliki kemauan untuk belajar, terbuka terhadap masukan, dan bersedia membangun kolaborasi dengan perguruan tinggi.

Publikasi Artikel di Jurnal Internasional Terindeks Scopus Q1 Memakan Waktu Hampir Satu Tahun.

Tim penulis pertama kali mengirimkan artikel tersebut pada Agustus 2025. Setelah itu, mereka harus menjalani proses penilaian, revisi, dan penyempurnaan selama sekitar 11 bulan.

Proses publikasi tersebut tidak berlangsung secara instan. Tim penulis harus menanggapi berbagai catatan dari editor dan penelaah sebelum artikel dapat diterima.

Setiap masukan membutuhkan jawaban yang jelas. Tim harus memperbaiki bagian tertentu, melengkapi penjelasan, memperkuat dasar teori, serta memastikan bahwa kesimpulan sesuai dengan data penelitian.

Dalam publikasi ilmiah, penelaah biasanya memeriksa tujuan penelitian, metode yang digunakan, kualitas data, kekuatan analisis, serta kontribusi penelitian terhadap bidang keilmuan terkait. Oleh karena itu, tim penulis harus melakukan setiap perbaikan secara teliti.

Ade juga harus menjaga komunikasi dengan para kolaborator selama proses berlangsung. Mereka membahas setiap catatan, menentukan bagian yang perlu diperbaiki, lalu mengirimkan kembali naskah hasil revisi.

Setelah melalui serangkaian evaluasi dan penyempurnaan, artikel tersebut akhirnya resmi terbit pada 29 Juni 2026.

Ade menerima pemberitahuan melalui surat elektronik yang memuat tautan DOI, halaman artikel, dan berkas PDF yang dapat diakses. Pemberitahuan tersebut menjadi penanda bahwa penelitian yang awalnya berasal dari kegiatan di dalam kelas telah berhasil melewati seluruh proses publikasi internasional.

Terbit di Jurnal Internasional Terindeks Scopus Q1 sebagai Kuartil Teratas.

Scopus mengelompokkan jurnal berdasarkan posisi dan pengaruhnya dalam bidang keilmuan tertentu. Jurnal Q1 berada dalam kelompok kuartil teratas pada kategori yang dinilai.

Karena itu, jurnal dalam kelompok Q1 umumnya menerapkan seleksi dan proses penelaahan yang ketat. Setiap artikel harus menunjukkan kualitas penelitian, metode yang dapat dipertanggungjawabkan, serta kontribusi yang relevan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Terbitnya artikel tersebut dalam jurnal terindeks Scopus Q1 membuat hasil penelitian dapat menjangkau pembaca dari berbagai negara. Peneliti lain juga dapat mengakses, mengutip, dan mengembangkan temuan tersebut sebagai bagian dari penelitian lanjutan.

Pencapaian itu turut menunjukkan bahwa penelitian yang berangkat dari persoalan di ruang kelas dapat memberikan kontribusi yang lebih luas. Ketika guru mengamati masalah pembelajaran secara sistematis dan menuangkannya dalam tulisan ilmiah, hasilnya dapat bermanfaat bagi pendidik maupun peneliti lainnya.

Ade memandang keberhasilan tersebut sebagai bukti bahwa profesi guru tidak membatasi seseorang untuk terlibat dalam penelitian global. Guru dapat memulai dari persoalan sederhana yang mereka temui setiap hari, lalu mengembangkannya menjadi penelitian yang bernilai akademik.

Meneliti Teknik Membaca SQ3R.

Artikel ilmiah tersebut membahas penerapan teknik membaca SQ3R. Istilah SQ3R merupakan singkatan dari Survey, Question, Read, Recall, dan Review.

Metode ini memberikan tahapan yang terstruktur kepada siswa ketika membaca sebuah teks. Siswa tidak langsung membaca seluruh bacaan tanpa tujuan, tetapi terlebih dahulu membangun gambaran mengenai isi yang akan mereka pelajari.

Pada tahap Survey, siswa mengamati bacaan secara sekilas. Mereka dapat memperhatikan judul, subjudul, gambar, kata kunci, maupun bagian penting lainnya untuk memahami topik umum dalam teks.

Setelah itu, siswa memasuki tahap Question. Pada tahap ini, mereka menyusun beberapa pertanyaan berdasarkan informasi awal yang telah diamati.

“Ketika membaca, siswa tidak langsung membaca seluruh teks. Mereka terlebih dahulu melihat gambaran umumnya melalui tahap Survey. Setelah itu, mereka menyusun pertanyaan melalui tahap Question mengenai hal-hal yang kemungkinan akan terjawab ketika membaca,” jelas Ade.

Pertanyaan tersebut membantu siswa menentukan tujuan membaca. Dengan demikian, mereka tidak hanya mengikuti susunan kalimat, tetapi juga berusaha mencari jawaban atas pertanyaan yang telah disusun.

Selanjutnya, siswa memasuki tahap Read. Mereka membaca teks secara lebih mendalam sambil memusatkan perhatian pada informasi yang dapat menjawab pertanyaan sebelumnya.

Setelah membaca, siswa menjalankan tahap Recall. Pada tahap ini, mereka mencoba mengingat dan menjelaskan kembali informasi yang telah diperoleh.

Tahap Recall membantu siswa mengetahui apakah mereka benar-benar memahami isi bacaan atau hanya mengenali kata-kata di dalam teks. Mereka juga dapat memeriksa kembali ketepatan jawaban yang ditemukan.

Proses tersebut kemudian berakhir pada tahap Review. Siswa meninjau kembali keseluruhan bacaan, pertanyaan, jawaban, dan informasi penting yang telah dipelajari.

Melalui rangkaian tersebut, SQ3R membantu siswa membaca dengan tujuan yang lebih jelas. Metode ini juga mendorong siswa untuk terlibat aktif dalam memahami, mengingat, dan mengevaluasi isi bacaan.

Berangkat dari Kebutuhan Siswa di Kelas.

Ade memilih metode SQ3R karena ingin membantu siswa memahami teks bahasa Inggris secara lebih mendalam. Menurutnya, kemampuan membaca tidak hanya berkaitan dengan menerjemahkan kata demi kata.

Siswa juga perlu menemukan gagasan utama, mengenali informasi penting, memahami hubungan antargagasan, serta menarik kesimpulan dari sebuah bacaan.

Tanpa strategi yang jelas, sebagian siswa dapat kehilangan fokus ketika menghadapi teks panjang. Mereka mungkin membaca seluruh bagian, tetapi masih kesulitan menjelaskan kembali informasi yang telah dipelajari.

Melalui SQ3R, Ade memberikan panduan yang lebih terarah. Setiap siswa mengikuti tahapan secara berurutan sehingga mereka memiliki tujuan sebelum membaca dan dapat mengukur pemahamannya setelah selesai.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa metode pembelajaran yang terstruktur masih dapat memberikan hasil positif ketika guru menerapkannya sesuai kebutuhan siswa.

Ade kemudian menggunakan pengalaman dan data dari kegiatan pembelajaran tersebut sebagai dasar penelitian. Tim penulis mengembangkan temuan itu hingga menjadi artikel ilmiah yang memenuhi standar publikasi internasional.

Jaringan Akademik Membuka Kesempatan Lebih Luas.

Selain kualitas penelitian, Ade menilai hubungan dengan lingkungan akademik turut memegang peranan penting dalam pencapaian tersebut.

Menurutnya, guru perlu membangun komunikasi dan kerja sama dengan dosen, peneliti, maupun perguruan tinggi. Jaringan tersebut dapat membuka akses terhadap pendampingan penelitian, pengembangan artikel, dan proses publikasi ilmiah.

Dosen dapat membantu guru memahami standar penelitian yang berlaku di lingkungan akademik. Mereka juga dapat memberikan masukan mengenai metode, referensi, pengolahan data, dan cara menyusun artikel.

Namun, kolaborasi tersebut tetap membutuhkan kesiapan dari pihak guru. Guru harus memiliki karya yang dapat dikembangkan, bersedia menerima evaluasi, dan mampu menjalani proses revisi secara konsisten.

Ade menilai kerja sama antara sekolah dan perguruan tinggi perlu terus diperluas. Guru memahami situasi pembelajaran secara langsung, sedangkan dosen memiliki pengalaman dalam metodologi penelitian dan publikasi akademik.

Ketika kedua pihak bekerja sama, mereka dapat menghasilkan penelitian yang kuat secara teori sekaligus relevan dengan kebutuhan pendidikan di sekolah.

Menyiapkan Penelitian Berbasis AI.

Keberhasilan menembus jurnal terindeks Scopus Q1 tidak membuat Ade berhenti menulis. Pencapaian tersebut justru mendorongnya untuk mulai mempersiapkan penelitian berikutnya.

Dalam rencana selanjutnya, Ade ingin menggabungkan metode pembelajaran konvensional dengan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence.

Ia ingin mengamati respons siswa ketika guru memadukan metode yang selama ini digunakan di kelas dengan perangkat otomatis berbasis AI.

Penelitian tersebut diharapkan dapat melihat efektivitas teknologi dalam membantu siswa memahami materi. Ade juga ingin mengidentifikasi tantangan yang mungkin muncul selama penerapannya.

Penggunaan AI dalam pembelajaran membutuhkan perencanaan yang matang. Guru perlu menentukan tujuan, memilih perangkat yang sesuai, dan memastikan bahwa teknologi mendukung proses berpikir siswa.

Melalui penelitian itu, Ade ingin mengetahui sejauh mana metode konvensional dan teknologi dapat berjalan secara berdampingan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Hasil percobaan tersebut nantinya akan ia susun kembali menjadi artikel ilmiah. Dengan demikian, proses pembelajaran di kelas tidak hanya menghasilkan pengalaman mengajar, tetapi juga temuan yang dapat dibagikan kepada masyarakat akademik.

Menjadi Inspirasi bagi Guru Lain.

Pencapaian Ade Prasetia Agung Gumelar Purnama menunjukkan bahwa guru memiliki peluang besar untuk terlibat dalam dunia penelitian.

Dalam kegiatan sehari-hari, guru menghadapi berbagai persoalan nyata di kelas. Mereka melihat respons siswa, menguji metode pembelajaran, mengevaluasi hasil, dan melakukan perbaikan.

Pengalaman tersebut dapat menjadi sumber penelitian yang bernilai. Guru dapat mencatat persoalan, menentukan pendekatan, mengumpulkan data, lalu menyusun hasilnya dalam bentuk karya ilmiah.

Namun, penelitian membutuhkan konsistensi. Guru perlu meluangkan waktu untuk membaca referensi, menyusun instrumen, mengolah data, dan memperbaiki tulisan.

Dukungan sekolah juga memegang peranan penting. Penugasan yang diberikan Nur Wahyudin, S.Si., menjadi titik awal yang mendorong Ade memasuki proses penelitian.

Selanjutnya, hubungan dengan UGJ Cirebon dan Politeknik Negeri Batam membuka jalan menuju kolaborasi akademik yang lebih luas.

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa sebuah pencapaian besar dapat bermula dari tugas sederhana yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Kesempatan yang datang kemudian berkembang melalui kerja keras, keterbukaan terhadap masukan, dan kemauan untuk terus belajar.

Keberhasilan Ade menembus jurnal internasional terindeks Scopus Q1 tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi. Pencapaian itu juga membawa nama SMA Islam Al-Azhar 5 Cirebon ke lingkungan akademik yang lebih luas sekaligus memberikan motivasi kepada guru lain untuk mulai meneliti, menulis, dan membagikan pengalaman pembelajaran melalui karya ilmiah.

Sumber: Radar Cirebon.

Scroll to Top